Posted by: euzoia | March 28, 2010

Betapa korupnya sejumlah polisi Indonesia

Pengalaman berhadapan dengan oknum polisi yang korup

Malu Berbuat Dosa Feb 15, ’09 2:56 AM
for everyone
Malu Berbuat Dosa (oleh : Dedi Turmudi)

Masyarakat yang pendidikanya semakin tinggi tetapi intelektualitasnya minus moralitas. Pejabat yang semakin kaya tetapi kekayaannya diperoleh dengan cara yang tidak halal. Wakil rakyat yang semakin pandai mengkibuli rakyat yang memilihnya dan terlibat korupsi. Rakyat yang tahu bahwa itu salah tetapi tetap memberikan peluang kepada aparat untuk berbuat salah demi untuk percepatan sebuah jasa yang seharusnya bagian dari pengabdian pejabat pada Masyarakat.

Adalah ironis bukan? Masyarakat kita yang dikenal kental dengan nuansa agama tetapi miskin dengan aplikasi dalam hidup keseharian seperti miskinnya rasa malu berbuat dosa. Korupsi yang semakin diberantas tetapi semakin membuat pandai sang pencuri untuk menghilangkan jejak korupsinya tanpa rasa malu meskipun diketahui orang lain. Bahkan sesudah dipublikasi oleh mediapun masih banyak usaha usaha para koruptor, pejabat untuk mengubur rasa malu mereka.

Kondisi di atas bersebrangan dengan apa yang terjadi di negeri Barat—minimal yang saya alami di Amerika walaupun tidak bisa dijeneralisir dalam keseluruhan kontek Barat dan AS.
Syahdan, saya kehilangan kaca mata di kampus . Saya tidak ingat dimana kaca mata itu tertinggal. Dua hari kemudian saya baru sadar bahwa kaca mata itu hilang dan saya mencarinya di tempat kehilangan barang ” Lost and Found.” Alangkah terkejutnya ketika saya melihat ternyata benda yang saya cari ada di kotak itu padahal harganya lebih dari 200 U$.

Sehari kemudian saya bertemu dengan orang yang menemukan kaca mata saya.Setelah berterima kasih padanya saya bertanya”kenapa anda kembalikan kaca mata itu ke tempat kehilangan padahal tidak ada yang tahu jika anda menjualnya seharga 150 US saja?.” “Oh, itu bukan milik saya dan logika saya mengatakan bahwa mengambil barang oranglain itu tidak baik dan saya malu jika orang lain mengetahuinya.”Kata teman saya yang tidak terlalu agamis setahu saya.

Di lain kali saya tertangkap polisi saat menyetir mobil malam hari di jalan tol karena menggunakan “High Beam” atau lampu sorot jauh yang seharusnya lampu sorot dekat atau“ Low Beam.” Setelah melihat lampu peringatan untuk berhenti sayapun menghentikan mobil ke sebelah kanan. Sesaat kemudian sang polisi datang menghampiri, sementara saya duduk tenang di mobil. “Selamat malam?, bisa tunjukan SIM?” tanyanya dengan sopan. “ Tentu Pak, ini dia”.Kata saya setelah membuka jendela otomatis mobil saya. Sang polisi pun mengambil SIM dan pergi seraya berkata” tetap di dalam mobil karena saya akan kembali sesaat lagi”. Waktu itu SIM saya masih “Learner Permit” yang artinya saya diizinkan belajar mengguankan mobil dengan didampingi oleh senior yang sudah berpengalaman selama dua tahun.

Dalam waktu lima menit sang polisi sudah kembali menghampiri samping kiri mobil saya dimana posisi setir berada. Sementara saya dengan teman teman sudah menghitung uang untuk membayar sang polisi karena saya merasa bersalah.Tetapi alangkah terkejutnya ketika Pak Polisi menunjukan surat tilang ( Ticket) dan mengembalikan SIM saya seraya berakta” anda dapat peringatan!, dan untuk yang akan datang agar lebih behati hati karena anda akan kena tilang!.” Lalu saya menjawab “ berapa yang harus saya bayar Pak?” Sang polisi terperanjat dan berkata bahwa saya tidak perlu bayar.” Serempak semua teman saya bernafas lega dan mengucapkan hamdalah dalam hati.
Selanjutnya sang Polisi menyuruh saya agar tetap menggunakan” low beam“ jika mobil dalam keadaan normal dan sambil melambaikan tangan dia mengucapkan selamat malam dan doa semoga saya sampai tujuan.

Adakah rasa malu seperti di negeri AS seperti yang saya alami?.Malu apabila orang lain mengetahuinya ?. Saya menyangsikannya. Apalagi apabila kita baca surat kabar, menonton televsisi dan mendengarkan radio.

Kejadian yang mirip seperti ini saya alami di Bundaran HI beberapa waktu yang lalu. Hanya saja teman saya yang menyetir mobilnya. Waktu itu kami salah belok ke kanan yang seharusnya dilarang. Sang polisi menggiring kami ke tempat yang sepi, dan seperti biasa dengan gaya penguasanya berkata” Anda tahu tidak bahwa disini dilarang belok kanan?”. Teman saya menjawab” Maaf Pak saya tidak pak tahu, karena biasanya boleh.” Teman saya terlihat gugup dan polisipun meninggalkan mobil saya, tetapi sang sopir dipanggil untuk mendekat Pak Polisi. Entah apa yang dibicarakan oleh mereka tetapi yang jelas setelah itu sang sopir berbalik lari kembali ke mobil seraya berkata pada saya ” Punya uang 50 ribu gak?!. Sambil tersengal sengal nafasnya. “ Uang sih ada, tapi untuk apa?” kata saya. “ Itu tuh pak polisi minta 50 ribu rupiah” sergahnya. Dengan tenang saya meyakinkan teman saya untuk kembali menghadap polisi. “ Tanya dulu apa salahnya?!, katakan bahwa kita tidak tahu!. Katakan bahwa ini mobil pesantren!.” Teman saya bangkit kembali semangatnya dan kembali menghadap polisi itu dengan membawa uang 10 ribu.

Entah apa yang mereka bicarakan setelah itu tetapi yang jelas sang polisi menerima uang 10 ribu itu dan kamipun bebas meninggalkan bundaran HI tersebut. Di jalan sang supir bercerita bahwa polisi itu memberi keringanan kepada kita karena kita dari pesantren dan kita tidak tahu kalau itu pelanggaran.

Sang polisi tadak malu menerima uang itu dan merasa berjasa memberi keringanan sementara teman saya merasa lega karena telah mendermakan 10 ribu rupiah untuk sang polisi.

Seperti juga yang saya kisahkan tentang sang polisi yang seharusnya menjadi pemberi petunjuk pada masyarakat yang tidak tahu tetapi malah mencari keuntungan.
Nampaknya rasa malu dalam berbuat dosa itu semakin langka baik dikalangan pejabat maupun rakyat . Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) yang berhasil menangkap pejabat atau wakil rakyat yang berbuat dosa “korupsi” kini harus bekerja keras untuk menangkap para koruptor yang tidak lagi mangkal di Hotel Hotel atau Kafe karena takut tertangkap tetapi tidak malu melakukannya. Al-kisah para penyuap dan yang disuap sekarang memindahkan lokasi transaksinya di jalan tol layaknya transaksi narkoba.

Kasus yang paling sederhana betapa pejabat kita tidak punya malu adalah seperti berikut . Seorang teman harus membayar 150 ribu rupiah untuk mendapatkan nomor pokok wajib pajak ( NPWP) padahal semua orang tahu bahwa pembuatan NPWP adalah gratis alias tidak dipungut biaya. Ini betul betul terjadi dan bisa dibuktikan.

Kisah lainnya enam orang kawan membuat passport untuk kepentingan studi ke suatu Negara. Tiap orang dikenai biaya 600 ribu rupiah satu hari jadi. Karena merasa keberatan akhirnya dibawalah wartawan. Sang wartawanpun berhasil menurunkan harga menjadi 500 ribu perorang. Semua teman saya bangga karena merasa berhasil membuat passport dengan murah. Dan sang aparatpun—menurut ceritanya—merasa bangga karena bisa membantu pembuatan passport dengan harga tersebut.

Alangkah ironisnya hal itu terjadi pada pembuatan passport yang seharusnya tidak lebih dari 270 ribu menurut aturan tertulis menjadi 500 ribu rupiah. Meskipun demikian kawan saya bangga dan tidak merasa malu kalau itu salah. Demikian pula Pejabat yang membuat passport pun bangga karena merasa bisa menolong teman saya tanpa rasa malu lagi dalam keadaan salah melakkan pungli.

Itulah fonomena yang terjadi di negeri kita saat ini baik di kalalangan pejabat , aparat, dan rakyat. Rasa malu berbuat dosa sudah hilang dari hatinya demi sebuah kenikmatan sesaat. Maka tidak heran jika korupsi saat ini bak cendawan di musim hujan dan penyebabnya sepele karena sudah tidak punya rasa malu untuk berbuat dosa. Padahal “ malu adalah sebagain dari iman” HR Bukhari. Wallahu ‘alam.

Dedi Turmudi


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: