Posted by: euzoia | October 7, 2009

mitigasi bencana

Rumah adat Cikondang versus gempa Jawa ? Tak sedikitpun rusak. « Great People & City

Rumah adat di Cikondang yang terletak di RT 003 RW 03 Kp.Cikondang, desa Lamajang, Kec. Pangalengan, kabupaten Bandung, masih berdiri kokoh, kendati daerah tsb terkena dampak gempa berkekuatan 7,3 SR yang terjadi Rabu ( 2/9/2009 ). Kearifan lokal mencuat dari bangunan berwarna coklat sederhana itu, seakan menjawab tantangan, tak goyah diterjang gempa.

Tak seperti ratusan rumah di sekitarnya yang retak hingga ambruk akibat gempa, rumah berukuran 12 x 8 meter tsb, berdiri tegak seperti biasa. Nyaris tak ada yang berubah. Atapnya beralaskan ijuk, dengan dinding gedeg. Tak ada kerusakan, selain faktor usia bangunan dan minimnya perawatan, yang telihat pada 5 jendela yang menghiasi dinding, dan satu pintunya. Begitu pula pada 9 saregseg yang berdiri kokoh pada setiap jendela.

“Waktu gempa kemarin, gentingnya juga tidak jatuh satu pun, tidak ada yang rusak,”ucap Iin Dasyah ( 74 ), sesepuh kampung adat Cikondang. Kalimat Iin memang beralasan, bentuk rumah panggung yang diusung, memang menjadikan konstruksinya fleksibel sehingga tahan gempa.”Keistimewaan rumah panggung memang anti gempa. Kalau orang dulu itu kan tidak mewah, jadi waktu itu ada pantangan, jangan membuat rumah dari batu, karena berbahaya kalau ada gempa,” tutur Iin. Penggunaan genting juga dinilai tabu oleh Iin.”Genting kan terbuat dari tanah. Kalau orang dulu punya pemikiran, masih hidup kok dikubur di bawah tanah,” ucap Iin sambil tersenyum.

Kampung Cikondang sendiri merupakan kampung adat yang terletak di kaki gunung Tilu. Rumah adat Cikondang adalah peninggalan leluhur bernama Ma Empuh yang hidup di abad ke-16. Keberadaan kampung ini dilindungi Undang2 no.5 tahun 1992 tentang Situs dan Benda Cagar Budaya. Hingga tahun 1942, jumlah rumah adapt beratap ijuk di kampung ini ada 60 rumah. Namun, kebakaran besar di tahun itu telah menghanguskan 59 rumah adat lainnya. Hanya satu yang tersisa dan bertahan hingga kini.

Hengki Ashadi, pakar bangunan tahan gempa dari Universitas Indonesia, setuju jika konstruksi seperti rumah adat Cikondang tak goyah diterjang gempa.”Bahkan kalau dilihat-lihat, seluruh rumah adat di Jawa Barat itu sebenarnya tahan gempa. Itu menunjukkan bahwa sesepuh kita sangat mengerti keadaan alam sekitarnya,” ucap Hengki.

Modernitas dan kebutuhan urban, membuat masyarakat kian jauh dari niat melestarikan rumah adat. Padahal detail konstruksi rumah modern bisa dipelajari dari rumah adat. Salah satu caranya dengan menggunakan atap ringan, dinding jangan menempel pada tiang utama, beri jarak 2 cm, agar ada ruang fleksibel jika rumah digoyang gempa. ( PR, 7/9/2009 )


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: